Narkoba – Pengertian, Jenis, Penyalahgunaan, Dampak, Efek

Narkoba seperti tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Setiap hari ada saja berita mengenai narkoba. Jika dulu banyak berita tentang orang-orang yang ketahuan mengonsumsi narkoba, kini berita tersebut lebih banyak didominasi oleh kalangan artis dan politik. Sayang sekali, padahal narkoba termasuk candu yang sangat mematikan yang wajib dihindari.

Tidak hanya itu, setiap orang wajib mengenal pengertian apa itu narkoba, beserta jenis-jenis dan segala yang berhubungan dengan narkoba, agar tidak terjerumus ke lubang kesengsaraan dan kematian.

Pengertian Narkoba

Menurut Kurniawan (2008), pengertian narkoba yaitu zat kimia yang jika masuk ke dalam tubuh manusia, baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, disuntik dan lainnya dapat mengubah keadaan psikologi orang yang mengonsumsinya. Keadaan psikologi tersebut dapat berupa perasaan, pikiran, suasana hati dan perilaku.

Sementara itu, pengertian narkoba menurut pakar kesehatan cukup berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Kurniawan, yaitu psikotropika yang biasa digunakan dijadikan alat untuk membius pasien yang hendak dioperasi atau berupa obat-obatan untuk penyakit tertentu.

Memang benar bahwa pada dasarnya, narkoba adalah obat yang mengandung zat kimia yang dalam dunia kedokteran masih dipakai untuk diberikan kepada pasien-pasien tertentu. Namun sayangnya zat kimia ini kemudian disalahgunakan oleh banyak orang dari banyak kalangan, terutama generasi muda.

 

Jenis-Jenis Narkoba

Pada dasarnya narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang. Ada 3 macam jenis narkoba, yaitu:

  1. Narkotika

Narkotika menurut Soerdjono adalah zat yang dapat menyebabkan timbulnya pengaruh tertentu bagi orang yang menggunakannya dengan memasukkan zat tersebut ke dalam tubuhnya. Pengaruh tersebut dapat berupa rangsangan semangat, halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan, pembiusan dan hilangnya rasa sakit.

Pembiusan dan hilangnya rasa sakit dalam dunia medis bertujuan positif, yaitu untuk dijadikan sebagai pengobatan untuk kepentingan manusia di bidang pembedahan dan lainnya. Narkotika tergolong menjadi 3 kelompok, yaitu:

  • Narkotika golongan I

Yaitu narkotika yang mengandung tingkat bahaya paling besar, karena daya adiktifnya merupakan yang paling tinggi. Narkotika golongan I ini biasanya digunakan untuk penelitian dan ilmu pengetahuan. Adapun contoh narkotika golongan ini yaitu ganja, kokain, opium, morfin dan heroin.

  • Narkotika golongan II

Yaitu narkotika yang mengandung tingkat daya adiktif kuat, namun bersifat positif karena bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya seperti betametadol, petidin dan benzetidin.

  • Narkotika golongan III

Yaitu narkotika yang mengandung tingkat daya adiktif ringan. Sama seperti narkotika golongan II, golongan III ini juga dapat bermanfaat untuk penelitian dan juga pengobatan. Yang membedakan keduanya adalah pada daya adiktifnya. Contoh narkotika golongan ini yaitu kodein beserta dengan keturunannya.

  1. Psikotropika

Zat atau obat yang bukan narkotika disebut dengan psikotropika. Baik alamiah maupun sintesis, psikotropika memiliki manfaat psikoaktif yang disebabkan oleh pengaruh selektif pada susunan saraf pusat. Susunan saraf pusat inilah yang menyebabkan perubahan khas yang terjadi pada aktivitas normal dan perilaku. Narkoba jenis ini terbagi menjadi 4 golongan, yaitu:

  • Psikotropika golongan I

Yaitu psikotropika dengan daya adiktif paling kuat dan belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan. Selain itu, khasiatnya pun sedang diteliti. Contohnya adalah LSD, STP, MDMA dan ekstasi.

  • Psikotropika golongan II

Yaitu psikotropika dengan daya adiktif kelas atas (kuat) yang memiliki manfaat sebagai pengobatan dan juga penelitian. Contohnya adalah metamfetamin, metakualon dan amfetamin.

  • Psikotropika golongan III

Yaitu psikotropika dengan daya adiktif kelas menengah. Psikotropika jenis ini berguna untuk penelitian dan pengobatan. Adapun contohnya yaitu buprenorsina, fleenitrazepam dan lumibal.

  • Psikotropika golongan IV

Yaitu jenis psikotropika yang memiliki daya adiktif ringan dan berguna sebagai pengobatan dan juga penelitian. Contoh seperti diazepam dan nitrazepam, termasuk BK, dumolid dan mogadon.

  1. Zat adiktif lainnya

Selain narkotika dan psikotropika, yang termasuk jenis narkoba adalah zat-zat kimia lainnya yang dapat memberikan efek ketergantungan kepada diri si pemakainya. Contohnya yaitu:

  • Alkohol beserta dengan jejeran kelompok minuman yang memabukkan serta menimbulkan ketagihan lainnya.
  • Rokok
  • Thiner dan zat lainnya. Contohnya seperti lem kayu, aseton dan penghapus cair, cat, bensin yang dihirup.

 

Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia

Di negara kita, Indonesia, peredaran narkoba sudah sangat mengkhawatirkan. Saking masifnya, permasalahan narkoba menjadi salah satu permasalahan nomor wahid di Indonesia. Oleh sebab itu, maka jelas sekali bahwa narkoba wajib diberantas sampai ke akar- akarnya. Tidak hanya pemakaiannya saja, tapi juga pengedar sampai gembong-gembongnya.

Ganjaran yang harus diberikan kepada siapa pun yang terbukti memakai dan mengedarkan harus tegas dan sesuai dengan kadar timbangannya.

Narkoba menjadi semakin meluas hingga merambah ke pelosok karena berkat dukungan dari budaya global yang dikuasai oleh budaya Barat, khususnya Amerika Serikat. Budaya semacam ini santer beredar melalui media, seperti TV, film dan VCD atau DVD.

Anak muda yang notabennya sedang berada pada masa pencarian jati diri dan biasanya cenderung suka mencoba-coba hal baru mudah tergiur untuk meniru atau mengadopsi budaya barat yang masuk ke Indonesia. Salah satunya budaya mengkonsumsi narkoba.

Berikut ini daftar penyalahgunaan narkoba di Indonesia berdasarkan tahunnya:

  1. Tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan mengalami kenaikan dengan jumlah 2.21 persen atau jika dijumlahkan sekitar 4.02 juta orang atau pengguna.
  2. Tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin meningkat, yaitu dari 2.21 persen menjadi 2.8 persen atau dari 4.02 juta menjadi 5 juta orang.

Jika ditelurusi lebih dalam lagi, sebenarnya Indonesia darurat penanggulangan narkoba telah ada sejak tahun 1971. Meskipun demikian, tidak ada upasa yang signifikan untuk mengatasi status tersebut. bahkan, kasus yang berkaitan dengan narkoba terus semakin meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu buktinya adalah pada tahun 2010 dan tahun 2011 seperti yang telah dibeberkan diatas.

Lalu bagaimana dengan penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahun 2017 ini?

Pada tahun 2017 ini, pengaruh narkoba sudah sampai ke setiap lini di setiap daerah di Indonesia, termasuk pedesaan kecil. Menurut Buwas atau Komjen Budi Waseso selaku Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), permasalahan narkoba telah rata menyeluruh ke nadi masyarakat Indonesia, dari mulai kalangan beruang hingga masyarakat kalangan bawah yang hidup di desa.

Bahkan terdapat kasus adanya bayi yang baru berusia enam bulan telah terkontaminasi narkoba. Bukankah itu sangat memprihatinkan?

Seharusnya kita turut prihatin dengan semakin naiknya angka pengguna narkoba dari tahun ke tahun. Mengetahui ini, maka sudah sepantasnya jika permasalahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia mendesak untuk diselesaikan.

 

Faktor Yang Mendorong Seseorang Menyalahgunakan Narkoba

Dua faktor yang biasanya menjadi pendorong atau pemicu seseorang berani mengkonsumsi narkoba secara illegal (tanpa anjuran ahli kedokteran), yaitu:

  1. Motivasi

Kasus penyalahgunaan narkoba yang terjadi di Indonesia yang paling utama adalah karena adalah motivasi. Motivasi ini timbul karena sang pengguna memiliki hubungan dengan keadaan individu, baik keadaan dari aspek emosional, fisik, mental-intelektual ataupun interpersonal.

  1. Faktor lain yang kompleks (faktor sosiokultural)

Selain motivasi, ada faktor lainnya yang melatarbelakangi maraknya penyalahgunaan narkoba di Indonesia, yaitu faktor sosiokultural. Faktor sosiokultural merupakan keadaan atau suasana hati seseorang yang menekan terlalu mendalam ke dalam diri remaja atau si pengguna. Yang termasuk dalam golongan faktor sosiokultural, yaitu:

  • Peningkatan teknologi yang pesat
  • Pengaruh media masa. Contohnya karena adanya iklan yang berkaitan dengan obat-obatan atau zat kimia.
  • Lenyapnya nilai-nilai atau sistem agama serta menurunnya standar moral, seperti budi pekerti atau Akhlaq).
  • Meningkatnya angka pengangguran, sehingga menyebabkan keputusasaan. Orang yang putus asa cenderung akan menghibur diri dengan hal-hal yang negative, termasuk mengkonsumsi narkoba.
  • Menjadi manusia untuk orang lain.
  • Ketidakseimbangan keadaan ekonomi. Contohnya adalah perbedaan ekonomi etno rasial, kemewahan yang membosankan, kemiskinan, dan lain sebagainya.
  • Perpecahan unit keluarga. Contohnya seperti perceraian, keluarga yang tinggal secara nomaden, orang tua yang tidak ada atau jarang di rumah, kurangnya pengawasan dan kasih sayang orang dewasa yang baik (orang tua atau wali) dan lain sebagainya.

 

Efek Narkoba

Efek atau bahaya yang pasti akan ditimbulkan setelah seseorang mengkonsumsi narkoba adalah sebagai berikut:

  1. Halusinogen

Apabila narkoba dikonsumsi dalam sekian dosis tertentu, maka sanggup mengakibatkan seseorang yang mengkonsumsi tersebut dapat berhalusinasi, yaitu seakan-akan melihat sesuatu yang indah, enak dan menyenangkan, padahal itu tidak ada atau tidak riil.

Contoh jenis narkoba yang dapat menimbulkan efek halusinogen adalah LSD dan kokain.

  1. Stimulan

Narkoba dapat memberikan efek negative bagi kesehatan tubuh, seperti kerja organ tubuh jantung dan otak bekerja lebih cepat dari kerja biasanya. Hal inilah yang kemudian dapat mengakibatkan seseorang tersebut lebih bertenaga, namun hanya untuk sementara waktu.

Selain itu. efek ini juga dapat membuat seorang pengguna narkoba menjadi lebih senang dan gembira dalam jangka waktu sementara saja.

  1. Depresan

Depresan merupakan efek dari bahaya narkoba yang dapat menekan sistem syaraf pusat serta dapat mengurangi aktivitas fungsional tubuh si pengguna narkoba. Hal ini menyebabkan si pemakai merasa tenang dan bahkan dapat membuatnya tertidur sampai tak sadarkan diri. Putaw merupakan contoh narkoba yang memiliki efek depresan.

  1. Adiktif

Adiktif bisa diartikan dengan ketagihan. Seseorang yang telah mencoba mengkonsumsi narkoba barang sekali pun, biasanya ia akan menginginkan mengkonsumsinya lagi, lagi, dan lagi hingga nasib membawanya untuk tobat atau menderita karena tindakannya ini.

Hal tersebut dikarenakan, zat yang terdapat dalam narkoba dapat mengakibatkan seseorang untuk cenderung bersifat pasif. Artinya adalah secara tidak langsung narkoba telah memutus syaraf-syaraf yang terdapat dalam otak. Contoh narkoba yang memiliki efek adiktif adalah putaw, heroin dan ganja.

 

Dampak Negatif Narkoba

Segala jenis obat-obatan terlarang, narkotika dan zat adiktif atau prikotropika berdampak buruk bagi si pemakai, terutama dalam hal kesehatan, baik fisik maupun mental. Dampak yang mengancam siapa saja yang berani mencicipi narkoba sangat tidak main-main, termasuk mendekam di penjara dan juga kematian.

Ada banyak sekali macam narkoba, begitupun dengan dampak yang mungkin terjadi pada si pemakai. Dampak tersebut terbagi menjadi beberapa kriteria, yaitu:

  1. Dampak tidak langsung
  • Dikucilkan oleh masyarakat sekitar yang memiliki pergaulan baik-baik. Itulah mengapa banyak pecandu yang kemudian menjadi anti sosial.
  • Keluarga akan merasa sangat malu, karena memiliki anggota keluarga yang mengonsumsi zat terlarang.
  • Terbuangnya uang secara sia-sia untuk membeli narkoba. Apabila tubuh si pecandu telah rusak digerogoti zat beracun dari narkoba, maka akan semakin banyak uang yang harus dikeluarkan untuk biaya penyembuhan dan perawatan kesehatan.
  • Mendekam di balik jeruji besi dan merasakan bagaimana dinginnya terkurung di sana.
  1. Dampak langsung

Dampak langsung bagi tubuh manusia (jasmani)

  • Gangguan pada jantung, otak, tulang, kulit, endoring, pembuluh darah, sistem pencernaan, paru-paru, sistem syaraf, tulang, traktur urinarius dan hemoprosik.
  • Berkesempatan besar terinfeksi penyakit menular berbahaya, seperti HIV/AIDS, Hepatitis dan TBC.

Dampak langsung bagi kejiwaan atau mental manusia

  • Menyebabkan depresi mental, karena akibat yang ditimbulkan dari kecaman keluarga dan lingkungan.
  • Menyebabkan gangguan jiwa berat (psikotik)
  • Menyebabkan bunuh diri
  • Memicu untuk melakukan tindak kejahatan, kekerasan dan pengrusakan, termasuk mencuri untuk membeli narkoba.

 

Pencegahan Narkoba

Narkoba sangat bahaya jika dikonsumsi oleh siapa saja. Ironisnya yang paling banyak menyalahgunakan zat adiktif ini adalah kalangan muda yang notabennya merupakan tunas dan penerus generasi bangsa. Apabila permasalahan narkoba tidak diberantas tuntas sampai ke akar-akarnya, hal tersebut dapat mengancam masa depan bangsa Indonesia.

Ada 3 macam tingkat intervensi yang bisa dilakukan untuk mencegah rusaknya generasi muda agar tidak terjerumus ke lumpur mematikan narkoba, yaitu:

  1. Pencegahan narkoba secara primer

Demi memberantas maraknya penyalahgunaan narkoba, semua lapisan masyarakat wajib menyebarkan informasi mengenai bahaya narkoba, termasuk keluarga dan instansi pemerintah, seperti sekolah dan BKKBN.

Salah satu contoh pemberian informasi seputar bahaya narkoba adalah dalam bentuk materi KIE. Dengan membaca kemudian memberikan informasi kepada orang lain terdekat Anda pun, Anda termasuk sudah melakukan upaya pencegahan narkoba secara primer.

  1. Pencegahan narkoba secara sekunder

Pencegahan narkoba secara sekunder dilakukan setelah ada seseorang yang telah terbukti mengkonsumsi narkoba. Kemudian sebagai bentuk pencegahannya, maka diperlukan upaya penyembuhan atau treatment. Ada beberapa fase yang perlu dilakukan, yaitu:

  • Fase penerimaan awal (initialintake)

Fase ini berlangsung selama 3 hari dimulai dari hari pertama pasca diketahuinya seseorang tersebut telah menyalahgunakan narkoba. Caranya yaitu dengan melakukan pemeriksaan, baik fisik maupun mental.

  • Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik

Fase tersebut meliputi dua hal, yaitu detoksifikasi dan komplikasi medik. Waktu yang dibutuhkan adalah 3 minggu dimulai dari minggu pertama seseorang tersebut terbukti terjerat narkoba. Hal ini bertujuan agar ketergantungan terhadap bahan-bahan adiktif menjadi berkurang secara bertahap.

  1. Pencegahan narkoba secara tersier

Yaitu upaya untuk merehabilitasi orang yang terbukti telah memakai narkoba dalam masa proses penyembuhannya. Langkah pencegahan ini dilakukan setelah melakukan langkah pencegahan point ke dua dengan masa penyembuhan selama 3 minggu.

Itu artinya waktu rehabilitasi yang dibutuhkan untuk memulihkan kondisi sang pemakai narkoba adalah 3-12 bulan. Tujuan dari rehabilitasi ini adalah:

  • Untuk mempersiapkan pengguna narkoba kembali ke masyarakat
  • Agar sang mantan penyalahgunaan narkoba tersebut dapat mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat.

Adapun dalam tahap ini yang dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti konseling, mengembangkan kegiatan alternatif, membuat kelompok-kelompok dukungan, dan lain sebagainya.

 

Begitu banyaknya dampak yang mengancam pengguna dan penyalahgunaan narkoba. Oleh sebab itu wajib kiranya jika semua lapisan masyarakat bersatu untuk melakukan upaya-upaya pencegahan. Salah satunya adalah dengan mencari tahu informasi lengkap mengenai narkoba, berikut dengan pengertian hingga bahaya-bahayanya.

Dari segala informasi tersebut berguna agar diri kita tidak terjerumus ke narkoba, begitupun dengan orang-orang tercinta yang dekat dengan kita.

Sumber:

loading...

Leave a Reply