IPA

Bunyi Hukum Mendel 1 dan 2 – Penyimpangan, Pola Pewarisan, Pengertian, Contoh Soal

Mungkin Anda pernah mendengar apa itu istilah dari Hukum Mendel. Namun apakah Anda yakin sudah memahami sepenuhnya akan hukum tersebut?

Pada kesempatan ini, saya akan membahas tentang pengertian Hukum Mendel, bagaimana bunyinya, dan penjelasan lain secara detail. Untuk dapat memahaminya, mari kita simak penjelasan di bawah ini!

Pengertian Hukum Mendel

Hukum Mendel merupakan sebuah hukum hereditas yang mana memaparkan tentang prinsip-prinsip penurunan sifat pada organisme.

Hukum Mendel ini pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan yang bernama Gregor Johann Mendel. Gregor awalnya membuat sebuah percobaan pada sebuah tanaman dan membuktikan bahwa adanya suatu penurunan warisan sifat pada organisme.

Tercatat pada bukunya yang berjudul “Percobaan Mengenai Persilangan Tanaman”, Gregor menjelaskan bahwa Hukum Mendel dibagi menjadi dua, yaitu hukum pemisahan dan hukum berpasangan secara bebas. Berikut ini ialah penjelasan mengenai 2 hukum yang ada dalam sebuah Hukum Mendel, antara lain:

  1. Hukum Pemisahan

Hukum pemisahan atau segregation merupakan sebuah hukum pertama dari Mendel. Di dalam hukum ini menyatakan tentang hukum pemisahan bebas.

  1. Hukum Berpasangan Secara Bebas

Sedangkan, hukum berpasangan secara bebas atau independent assortment merupakan suatu hukum yang diketahui sebagai hukum kedua Mendel.

Di dalam dua Hukum Mendel tersebut telah dijelaskan bahwa bila dua individu memiliki dua pasangan dan dua sifat berbeda, maka akan diturunkan sepasang sifat secara bebas. Hal tersebut tidaklah berpengaruh terhadap pasangan sifat yang lain. Salah satu contohnya ialah tinggi dari tanaman dengan warna bunga suatu tanaman tidaklah saling mempengaruhi satu sama lain.

 

Jadi demikianlah pengertian mengenai Hukum Mendel yang telah ditemukan dan dikemukakan oleh seorang ahli bernama Gregor Johann Mendel. Hal penting yang perlu diingat saat mempelajari ilmu pengetahuan tentang Hukum Mendel ialah bagaimana bunyinya.

Untuk mengetahui bunyi Hukum Mendel, simaklah ulasan di bawah ini!

 

Bunyi Hukum Mendel

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa Hukum Mendel dibagi menjadi dua. Lalu bagaimana bunyi dari setiap hukum bagian Mendel ini?

  1. Hukum Mendel 1

Hukum Mendel 1 sering disebut sebagai segregasi yang mana merupakan sebuah gen dan alel yang terjadi saat pembentukan sel gamet. Gamet ini merupakan salah satu bagian terpenting dalam suatu persilangan tanaman. Dalam istilah biologinya, hal ini sering disebut dengan suatu cara perkembangbiakan secara seksual.

Pembentukan sel gamet pada saat proses persilangan pengembangbiakan secara seksual disebut sebagai “Gametogenesis”. Pada saat proses pembentukan sel ini, akan adanya suatu kegiatan reduksi. Reduksi ini merupakan suatu tindak pengurangan jumlah dari kromosom sel anak yang telah terbentuk. Tindak pengurangan bertujuan untuk menjaga kestabilan jumlah kromosom sel anak yang terbentuk saat proses fertilisasi.

Dengan demikian, maka secara otomatis, kromosom akan memisahkan diri dengan pasangannya (homolognya). Homolog ini ialah pasangan kromoson yang mengandung gen dan alel. Jadi saat proses pembentukan suatu gamet, maka hanya akan terbentuk kromosom tunggal.

  1. Hukum Mendel 2

Hukum Mendel 2 sering disebut juga sebagai asortasi, yang mana merupakan sebuah proses penggabungan antara gen dan alel yang mengatur sifat tertentunya.  Pada saat proses fertilisasi sebelumnya akan terjadi suatu proses peleburan, dimana sel gamet yang mengandung gen dan sebuah gen tunggal akan menyatu. Setelah proses penyatuan atau peleburan tersebut, gen akan dipertemukan pada alelnya.

Keadaan ini akan membuahkan suatu hasil yaitu suatu pengekspresian sifat tertentu. Hasil yang terbentuk dari proses peleburan sel gamet jantan dan betina ialah Zigot. Zigot inilah yang nantinya akan membawa masih-masih setengah dari kromoson gennya. Kombinasi antara pejantan dan induk yang berbeda akan menghasilkan suatu turunan sifat yang berbeda pula.

Demikianlah bunyi dari setiap hukum yang ada pada Hukum Mendel. Setelah penjelasan tentang bunyi dari setiap Hukum Mendel akan terbentuknya suatu sifat alel, maka berikutnya Anda harus mengetahui bagaimana pola pewarisan dari sifat yang ada di hukum tersebut.

 

Pola Pewarisan Sifat Pada Hukum Mendel

Di dalam Hukum Mendel terdapat suatu pola pewarisan sifat yang biasa disebut sebagai pola-pola pewarisan hereditas. Pewarisan sifat ini merupakan suatu sifat yang diturunkan dari induk kepada turunannya.

Pola pewarisan ini pertama kali diperkenalkan oleh Mendel. Setelah dilakukan penelitian lanjutan oleh para ilmuwan ternyata ditemukan perbedaan-perbedaan yang tidak sesuai dengan pola Mendel. Perbedaan tersebut antara lain penyimpangan Hukum Mendel, determinasi seks, gen letal, pautan, dan pindah silang.

Percobaan pertama yang dilakukan oleh Gregor Mendel ialah pada tanaman ercis (pisum sativum). Dari percobaan tersebut Mendel merumuskan suatu hipotesis bahwa sifat pada organisme yang akan diturunkan secara bebas dari induk ke keturunannya disebut Hukum Mendel 1. Berikut ini ada dua istilah pewarisan sifat di Hukum Mendel, antara lain:

  • Monohibrid

Persilangan Monohibrid ialah suatu persilangan yang hanya menggunakan gen yang memiliki macam yang berbeda dan satu tanda berbeda.

  • Persilangan Dihibrid

Persilangan yang menggunakan dua pasangan kromosom yang berbeda dan dua tanda yang berbeda. Satu jenis alel tidak hanya menurunkan satu sifat organisme saja. Namun, secara bersamaan pun beberapa sifat organisme dapat diturunkan.

 

Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Dalam Hukum Mendel telah dijelaskan bahwa adanya suatu bukti akan penyimpangan semu. Seperti yang telah dikemukakan oleh W. Bateson dan R.C Punnet bahwa pada suatu persilangan F2, akan menghasilkan sebuah rasio fenotipe 14 : 1 : 1 : 3.

Contoh persilangan ini dibuktikan pada sebuah tanaman kacang kapri berbunga ungu dan serbuk sarinya lonjong dengan kacang kapri merah serbuk sarinya bulat. Rasio fenotipe yang terjadi pada kacang kapri ini menyimpang dari Hukum Mendel. Seharusnya, perbandingan turunan dengan rasio fenotipe berikutnya ialah 9 : 3 : 3 : 1.

Pada sekitar tahun 1910, seorang sarjana Amerika bernama T.H. Morgan menemukan banyak gen yang terdapat dalam sebuah kromosom. Yang lebih menariknya, mekanisme turunannya menyimpang dari Hukum Mendel 2. Contoh tersebut ditemukan dari penelitian pada lalat buah yang memiliki gen sekitar 5.000 gen. Padahal, seharusnya lalat buah hanya memiliki 4 pasang kromosom saja. Dari penelitian ini, Morgan menjelaskan bahwa di dalam sebuah kromosom lalat buah terdiri dari puluhan gen.

Tahukah Anda, bahwa di dalam Hukum Mendel telah terbagi menjadi 4 bentuk penyimpangan. Di antaranya ialah atavisme, kriptomeri, polimeri, hipostasis, epistasis, dan komplementer.

  • Atavisme

Penyimpangan ini terjadi pada jengger ayam yang memiliki bentuk berbeda-beda, yaitu seperti pea, walnut, rose, dan single. Perbedaan yang terjadi pada jengger ayam ini akibat adanya suatu interaksi antara dua gen yang akhirnya membentuk suatu sifat yang berbeda.

Menurut Hukum Mendel, pada kejadian dihibrid normal pada suatu gen akan mempengaruhi satu fenotipe. Namun, pada masalah ini dua gen saling berinteraksi satu sama lain yang akhirnya memberikan suatu bentuk satu fenotipe, yaitu jengger ayam berbeda-beda.

  • Kriptomeri

Penyimpangan yang berikutnya ialah kriptomeri yang memiliki arti tersembunyi. Dalam penyimpangan ini akan mempengaruhi gen dominan tersembunyi, jika berdiri sendiri dengan gen dominan lainnya.

Salah satu yang mengalami penyimpangan ini ialah persilangan dari bunga Linaria Mariconna berwarna merah dan putih yang menghasilkan warna bunga turunan ungu. Bunga berwarna ungu ini muncul sebagai penyimpangan akibat dari pigmen antosianin dalam keadaan basa yang telah dihasilkan oleh sel.

  • Polimeri

Polimeri merupakan sebuah keadaan dimana ada beberapa gen yang berdiri sendiri dapat mempengaruhi tubuh organisme yang ada dalam bagian yang sama. Kasus penyimpangan ini pertama terjadi pada sebuah biji gandum yang memiliki warna merah yang beraneka ragam.

  • Epistasis

Epistasis merupakan sebuah gen yang berperan menutupi aktivitas dari gen lain yang bukan termasuk golongan alel. Gen yang ditutupi oleh epitasis ini disebut sebagai “hypostasis”.

Perlu Anda tahu, bahwa penyimpangan epistasis dibagi menjadi 3, yaitu epistasis dominan, epistasis resesif, dan epistasis dominan resesif.

  • Gen komplementer

Gen komplementer ialah suatu gen yang tugasnya saling melengkapi suatu sifat yang muncul pada saat tertentu. Contohnya jika gen dominan B muncul sendiri tidak disertai gen T maka akan memunculkan sifat bisu tuli.

Namun, apabila gen dominan T muncul sendiri  dan tidak disertai gen B maka akan memunculkan bisu tuli. (keterangan gen B = Bisu dan T = Tuli).

 

Contoh Soal Hukum Mendel

  1. Pak Ahmad melakukan sebuah persilangan antara kacang kapri berbiji bulat warna kuning (BBKK) dengan biji keriput warna hijau (bbkk). Persilangan tersebut menghasilkan keturunan F2 dengan banyak biji sebanyak 3.200 buah. Tentukan jumlah biji bulat warna kuning dengan biji keriput warna hijau secara berurutan!

Pembahasan:

P1 = BBKK     ><        bbkk

(bulat, kuning)                        (keriput, hijau)

G  = BK                                   bk

F1 = BbKk (bulat, kuning)

P2 = BbKk      ><        BbKk

G  = BK, Bk, bK, bk   BK, Bk, bK, bk

F2 = 3.200 buah

Gamet BK Bk bK bk
BK BBKK BBKk BbKK BbKk
Bk BBKk BBkk BbKk Bbkk
bK BbKK BbKk bbKk bbKk
bk BbKk Bbkk Bbkk bbkk

Keterangan:

  • BB = bulat       – KK : kuning
  • Bb = bulat        – Kk : kuning
  • Bb = keriput    – kk : hijau

Hasil dari F2 ialah

bulat kuning : bulat hijau : keriput kuning : keriput hijau

9          :               3        :        3              :       1

1.800    :              600     :        600          :       200

Sehingga, jumlah biji bulat warna kuning dengan biji keriput warna hijau ialah 1.800 dan 200.

  1. Jika tanaman mangga bulat manis (BBMM) disilangkan dengan buah mangga lonjong manis. Maka hasil persilangan yang terjadi adalah ……

Pembahasan:

P          = BBMM(bulat manis)           ><        bbMm(lonjong manis)

G         = BM                                                        bM, bm

F          = BbMM (bulat manis) dan BbMm (bulat manis)

Jadi, hasil persilangan yang terjadi antara buah mangga bulat manis dengan mangga lonjong manis menghasilkan keturunan berfenotipe bulat manis semua.

  1. Seorang petani mencoba persilangan antara bunga Linaria Maroccana bunga merah (Aabb) dengan bunga Linaria Maroccana warna putih (AaBb). Apabila F1 disilangkan dengan bunga warna merah (Aabb). Maka berapakah rasio fenotip F2 antara ungu : putih : merah?

Pembahasan:

P1        =          Aabb(merah)  ><        aaBB(putih)

G         =          Ab                                   aB

F1        =          AaBb (ungu)

P2        =          AbBb(ungu)    ><        Aabb(merah)

G         =          AB,Ab,aB,ab                 Ab,ab

Gamet AB Ab aB Ab
Ab AABb

(ungu)

AAbb

(merah)

AaBb

(ungu)

Aabb

(merah)

ab AaBb

(ungu)

Aabb (merah) aaBb

(putih)

aabb

(putih)

F2        =          ungu    :           putih    :           merah

3                          2                      3

 

Jadi, demikianlah Bunyi Hukum Mendel 1 dan 2 – Penyimpangan, Pola Pewarisan, Pengertian, Contoh Soal. Pada dasarnya Hukum Mendel merupakan suatu hukum yang mempelajari sebuah ilmu persilangan dari organisme yang berbeda.

Sumber:

loading...

Leave a Reply